Bahagia Itu Adalah…?

BAHAGIA ITU ADALAH...?

(Matius 5: 1-12)

A.    Sejumlah jalan pikiran

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online mendefinisikan “bahagia” sebagai “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)”. Dalam refleksi “Bahagia Itu Adalah…?” ini, istilah “keadaan” dalam KBBI sangat membantu. Namun, kemungkinan untuk berada dalam kadaan bebas dari segala yang menyusahkan nampaknya sangat tipis selama manusia masih bertarung di dunia ini. Jika jalan pikiran ini benar, kemungkinan bahagia juga tipis bagi manusia selama masih bertarung di dunia ini. Ops!!!

Jalan pikiran lain soal bahagia adalah bahwa tujuan manusia belajar, bekerja, membangun relasi, membentuk keluarga, dan segala aktivitas lain adalah agar manusia itu bahagia di sini dan sekarang (dunia), bukan hanya nanti (sesudah meninggalkan dunia ini). Kalau bisa bahagia sekarang, mengapa harus nanti?

Bahagia sekarang tidak mudah. Walaupun hari in orang bisa mengatakan bahwa dia bahagia – dan itu benar- besok situasi bisa berbeda. Bahagia tidak bertahan lama. Mengapa? Dalam harian Strait Times (Sabtu, 26 Juli 2014), Arthur C. Brook (seorang ilmuwan, musikus, penulis, dan pembicara) menulis artikel “Secret of Happiness”. Dalam artikel tersebut dia berargumen bahwa alasan utama kita tidak bahagia adalah karena hal-hal yang kita cari (ketenaran, prestasi, kekayaan, dll) adalah apa yang kita gunakan untuk mengisi kekosongan batiniah. Yang kita capai itu bisa memberi kepuasan, tapi itu tidak bertahan lama. Dan semua itu tidak akan pernah cukup. Itu hanya memuaskan, tidak sampai pada level membahagiakan. Karena itulah manusia mencari, mencari, dan mencari lagi. Hasilnya? Manusia terperangkap dalam lingkaran mencari, mencari, dan mencari lagi.  Kapan bahagianya? Kalau kebahagiaan itu terletak pada apa yang datang dari luar diri (eksternal)? Dalam hal ini, sungguh tepat Dalai Lama mengatakan, “Menyukai yang kita miliki lebih baik daripada berusaha memiliki yang kita sukai.”

B.    Sabda Bahagia (Mat 5:1-12)

Perikop sabda bahagia (Matius 5:1-12) adalah satu dari sejumlah perikop Injil yang paling dikenal. Perikop ini mengawali apa yang disebut “khotbah di bukit” dalam Matius 5-7.  Dalam perikop ini, Yesus menawarkan satu jenis bahagia. Bahagia ini adalah suatu “keadaan” spiritual. Jenis bahagia ini tidak tergantung dari apa yang datang dari luar (eksternal) tetapi apa yang ada di dalam (internal). Jenis bahagia ini sekarang dan di sini. Jenis bahagia ini juga bukan soal bebas dari yang menyusahkan karena bahagia ini bisa dinikmati oleh orang yang miskin, lapar, dan bahkan dianiaya.

  • Konteks

Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan dengan mewartakan bahwa kerajaan Allah itu sudah dekat dan karena itu, dia memanggil orang pada pertobatan. Orang banyak kemudian datang untuk mengaku dosa dan dibaptis. Yohanes hanya mempersiapkan, bukan pemilik otoritas Kerajaan itu. Yohanes dengan jelas menegaskan otoritas dalam kerajaan Allah itu adalah milik Yesus dengan mengatakan: “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan” (Mat 3:12). Segala sesuatu yang bertalian dengan Kerajaan itu kini berada dalam tangan-Nya.

Untuk mulai membangun Kerajaan itu, Yesus memilih 12 murid pertama yang disebut rasul (Mat 4: 18-22). Lewat pemanggilan para rasul ini nampak jelas otoritas Yesus yang adalah raja dalam kerajaan itu.

Awal dari pembangunan kerajaan Allah itu nampaknya sukses lewat pelayanan Yesus (4:23-25). Dia menjelajahi seluruh daerah Galilea untuk mewartakan Kerajaan itu lewat penyembuhan orang-orang sakit. Banyak orang merespon perwartaan itu. Mereka datang kepada Yesus. Kepada mereka yang datang mencari-Nya, Yesus mengajar: “BERBAHAGIALAH….”

Pertobatan (pengakuan dosa dan pembaptisan) yang diminta Yohanes Pembaptis tidak cukup. Itu baru persiapan. Dalam perikop “sabda bahagia” ini Yesus memaparkan ke arah mana PERTOBATAN itu diharapkan bergerak. Yesus membuka rahasia kerajaan itu dengan penekanan pada kualitas hidup yang bagaimana yang dituntut kerajaan itu. Jadi “sabda bahagia” adalah panduan etis hidup dalam kerajaan itu. Hidup dalam karajaan itu bukan nanti sesudah mati, tapi mulai kini dan di sini sampai pada pemenuhannya kelak.

Sabda ini disampaikan kepada orang banyak yang berbondong-bondong datang kepada-Nya waktu itu.  Namun dari isinya menjadi sangat jelas bahwa kebahagiaan itu adalah milik orang yang memiliki kualitas hidup sipiritual tertentu. Jadi, Yesus berbicara kepada semua orang. Siapa pun yang memenuhi standar hidup yang diharapkan, merekalah yang berbahagia, layak masuk dalam kerajaan itu.

Jadi dalam arti tertentu “sabda bahagia” ini mengundang orang bertanya kepada diri sendiri:

– Hidup benar yang bagaimanakah yang diharapkan bagi warga Kerajaan itu?

-Apakah saya termasuk warga Kerajaan itu?

  • Teks

Mat 5:1           Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Mat 5:2           Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

Mat 5:3           “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Mat 5:4           Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Mat 5:5           Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Mat 5:6           Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Mat 5:7           Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Mat 5:8           Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Mat 5:9           Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Mat 5:10         Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Mat 5:11         Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Mat 5:12         Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Kotbah di bukit (Matius 5-7) mulai dengan “sabda bahagia” ini. Kualitas-kualitas yang dimuat dalam “sabda bahagia” ini menggambarkan karakter orang benar di hadapan Allah, yakni mereka yang menjadi bagian dari Kerajaan itu. Kualitas hidup dalam “sabda bahagia” adalah juga gambaran sempurna murid Kristus yang menjadi ahli waris janji Kerajaan itu. Yesus tidak mengatakan bagaimana supaya menjadi seperti itu. Yesus membatasi proklamasi “Seperti inilah pewaris kerajaan itu!”. Yesus hanya mengatakan “miskin di hadapan Allah” adalah perwaris Kerjaan itu, namun tidak mengajarkan bagaimana cara “menjadi miskin di hadapan Allah”. Yesus membuka ruang yang luas bagi siapapun untuk mencapai kriteria itu.

 

  • Observasi Teks

Observasi teks dalam tautan isi dengan Perjanjian Lama juga membantu memahami Sabda Bahagia Yesus ini. Satu hubungan yang menarik dengan Perjanjian Lama dapat dilihat dalam Amsal 6:16-19.

Ams 6:16         Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:

Ams 6:17         mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

Ams 6:18         hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,

Ams 6:19         seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Ada tujuh karakteristik hidup yang dibenci Tuhan, yang dianggap sebagai antitesis dari orang benar yang menerima berkat dari Tuhan dalam “Sabda Bahagia”.

Yang pertama: mata sombong/arrogan adalah lawan dari “miskin dalam roh”; yang terakhir “saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran” adalah lawan dari “pembawa damai”. Ciri-ciri lain di antara yang dua in: dusta, penumpah darah dll, adalah karakteristik yang bertentangan dengan apa yang Tuhan cintai. Dalam Amsal diberitahukan apa YANG DIBENCI TUHAN, sementara dalam Sabda Bahagia Yesus menawarkan yang positif: APA YANG DICINTAI TUHAN yang menjadi kriteria untuk bahagia.

C.    Uniknya Cara Yesus

Yang membuat sabda bahagia menjadi khas adalah cara Yesus menyampaikannya.

Mat 5:1           Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Yesus mulai mengajar setelah Ia duduk. Para rabi Yahudi, kalau sedang mengajar secara resmi, biasanya mereka duduk. Kalau Yesus mengajar dengan duduk ini mengindikasikan bahwa ajaran yang akan disampaikan-Nya itu resmi (punya otoritas, kekuatan, dan jadi pusat ajaran).

Mat 5:2           Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

Bahasa asli adalah “membuka mulut dan mengajar”. Frasa (gabungan kata) “membuka mulut” bukanlah hanya sekadar ungkapan lain untuk mengatakan “berbicara”. Dalam bahasa Yunani frasa “membuka mulut” memiliki makna ganda:

  • Ungkapan “membuka mulut” digunakan untuk ucapan yang agung, mulia, berkelas. Misalnya untuk ramalan.
  • Juga digunakan jika orang yang berbicara mengatakannya dari seluruh hati dan pikirannya.

Penggunaan frasa ini mengingatkan kedalaman materi yang disampaikan Yesus dalam khotbah di bukit (Matius 5-7). Kotbah di bukit itu central ajaran Yesus, keluar dari seluruh hati dan budi. Yesus membuka seluruh dirinya kepada para murid dan para rasul perihal sesuatu yang sangat dasariah: rahasia Kerajaan Allah.

 

D.    Apa Arti “BERBAHAGIALAH”?

Ajaran yang agung ini dimulai dengan ungkapan “berbahagialah”.

  1. And seeing the multitudes, he went up into a mountain: and when he was set, his disciples came unto him:
  2.  And he opened his mouth, and taught them, saying,
  3. Blessed are the poor in spirit: for theirs is the kingdom of heaven.
  4. Blessed are they that mourn: for they shall be comforted.
  5. Blessed are the meek: for they shall inherit the earth.
  6. Blessed arethey which do hunger and thirst after righteousness: for they shall be filled.
  7. Blessed are the merciful: for they shall obtain mercy.
  8. Blessed are the pure in heart: for they shall see God.
  9. Blessed are the peacemakers: for they shall be called the children of God.
  10. Blessed are they which are persecuted for righteousness’ sake: for theirs is the kingdom of heaven.
  11. Blessed are ye, when men shall revile you, and persecute you, and shall say all manner of evil against you falsely, for my sake.
  12. Rejoice, and be exceeding glad: for great is your reward in heaven: for so persecuted they the prophets which were before you.

Dalam Kitab Suci versi King James ada kata-kata yang dicetak MIRING. Kata yang dicetak miring berarti dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani, atau Ibrani) tidak ada kata atau ungkapan yang ekuivalen (setara). Kata yang dicetak MIRING ditambahkan untuk memberi arti pada kalimat dalam terjemahan. Jadi dalam bahasa asli, dalam sabda bahagia TIDAK ADA “lah” atau “adalah” atau kata kerja bantu to be (are).

Mengapa demikian? Yesus mengajarkan sabda bahagia bukan dalam bahasa Yunani, tetapi dalam bahasa Aram, yakni bahasa Ibrani sehari-hari.  Bahasa Ibrani dan Aram memiliki kesamaan dalam ekspresi yakni dalam bentuk seruan. Ekspresi “berbahagialah” dalam bahasa Ibrani adalah ASHERE. Kita temukan juga kata ini dalam Mazmur 1:1, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.” Tapi ini adalah kalimat pernyataan bukan seruan.  Sama seperti sabda bahagia, seruan menjadi pernyataan dalam terjemahan.

Sabda bahagia yang sebenarnya bukanlah dalam bentuk kalimat pernyataan “berbahagialah” atau “adalah berbahagia”, tetapi dalam bentuk kalimat seru. Barangkali lebih cocok: “O, kebahagiaan orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga!”

Kata “kebahagiaan” atau “berbahagialah” yang dipakai dalam setiap sabda bahagia adalah kata khusus. Dalam teks bahasa Yunani dipakai kata MAKARIOS. MAKARIOS biasanya dipakai untuk Tuhan atau dewa/dewi. Kebahagiaan yang diajarkan Yesus (kebahagiaan Kristiani) adalah sejenis kebahagiaan Ilahi.

Orang Yunani juga menggunakan kata MAKARIOS untuk pulau Cyprus. Mereka menyebut pulau itu Cyprus he makaria = Cyprus Pulau Yang Bahagia karena Cyprus indah, subur, sumber hidup, iklim bagus, bunga, pohon, sumber-sumber alam, memberi hidup. Cyprus memiliki dalam dirinya kebahagiaan yang sempurna.

Jadi kebahagiaan yang dimuat oleh kata MAKARIOS adalah kebahagiaan yang murni, tidak bernoda, tak bisa disentuh, dia ada di dalam. Ini mengingatkan kita pada sabda Yesus: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16:22).

Kebahagiaan yang Yesus maksudkan dalam Sabda Bahagia adalah kebahagiaan yang tidak bisa disentuh dan dihancurkan, pun oleh penindasan. Bahagia ini datang dari keadaan atau situasi SEDANG DICINTAI TUHAN. Pengalaman DICINTAI inilah yang mungkin membuat orang yang sedang ditindas bisa BERBAHAGIA. Berbahagia adalah kualitas yang dimilik orang yang ada dalam kerajaan Allah, kualitas orang yang benar di hadapan Allah.

Ketika Yesus mengatakan “berbahagialah mereka (baca; O, kebahagiaan mereka…)”, Dia bukan saja melukiskan mereka sebagai dipenuhi dengan kebahagiaan mendalam karena mereka benar di hadapan Tuhan, tapi Yesus sendiri memuji mereka karena karakter mereka.  

 

E.    Penutup

Bahagia adalah keadaan (situasi) sedang dicintai Tuhan. Karena itu, bahagia itu berciri ilahi.  Ia ada di dalam. Tidak terpengaruh oleh apa yang di luar.

Orang Kristen masih tetap mencari, mencari, dan mencari dalam hidupnya. Tapi lingkaran mencari ini BUKAN supaya bahagia, TETAPI karena bahagia sebab Tuhan mengasihi sekarang dan di sini.

Yesus memuji mereka yang layak menjadi bahagia dalam Kerajaan itu dengan seruan “O…kebahagiaan mereka”.  Apakah Yesus juga memuji saya dengan cara itu? Jawaban jujur atas pertanyaan ini adalah…?

 

P. Julius Lingga, OFMCap